Hasil Survey INES, La Nyalla Berpeluang Jadi Pengganti Pakde Karwo
Surabaya – Indonesia Network Election Survei (INES) kembali menggelar survei untuk mengetahui peluang empat tokoh yang digadang-gadang akan maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur pada tahun 2018 nanti untuk menggantikan Gubernur Jatim saat ini, Pak De Karwo.
Direktur Eksekutive INES, Widodo Tri Sektianto menjelaskan bahwa survei ini melibatkan 2.178 responden. Mereka dipilih dengan mengunakan metode multistage random sampling. Adapun margin of error sebesar ± 2,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
“Sampel berasal dari seluruh Distrik yang terdistribusi secara proporsional. Survei ini dilakukan mulai 6 sampai 16 Oktober 2017,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/10).
Hasilnya, dari tingkat kapabilitas, Ketua Kadin Jawa Timur unggul dengan 78,4 persen respoden memilihnya. Selanjutnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini 74,9 persen, Menteri Sosial Khofifah Indar parawansa 74,7 persen dan terakhir Wakil Gubernur Jatim saat ini Syaifullah Yusuf dengan 70,5 persen.
La Nyalla kata dia kembali unggul dari tingkat leadership atau kepemimpinan dengan 73,7 persen, kemudian disusul Tri Rismaharini 72,4 persen, Syaifullah Yusuf 67,2 persen, dan Khofifah Indar Parawansa 71,8 persen.
Ditingkat akseptabilitas, kembali La Nyalla unggul. Mantan Ketua Umum PSSI ini memperoleh 74,3 persen. Khofifah Indar Parawansa 70,7 persen, Tri Rismaharini 71,8 persen.
“Sosok Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf tingkat akseptabilitas paling terendah yaitu 63,2 persen,” imbuhnya.
Masyarakat Jatim kata dia ingin sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan dalam 5 tahun ke depan. Adapun menurut survei, sosok La Nyalla lah yang dianggap memiliki kemampuan itu.
“La Nyalla Mataliti dinilai oleh 89,4 persen masyarakat Jawa Timur memiliki kompentensi untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia Jawa Timur,” tandasnya.
Sementara Tri Rismaharini lanjutnya, dinilai 79,3 persen, Khofifah Indar Parawansa 73,8 persen, dan Syaifullah Yusuf paling rendah tingkat kompentensi nya yaitu 60,4 persen.
Dalam pertanyaan semi terbuka ketika responden ditanyakan tokoh mana yang akan dipilih sebagai Gubernur Jawa Timur jika ada pemilihan Gubernur saat ini, maka jawaban Responden secara reflek menjawab nama La Nyalla, yang dipilih sebanyak 13,2 persen, lalu Tri Rismaharini 11,4 persen, kemudian Khofifah 10,7 persen dan Syaiffulah Yusuf 8,6 persen dan menyebut tokoh lainnya yakni 29,3 persen, dan ragu-ragu 26,8 persen.
“Ini artinya baru 43,9 persen masyarakat Jawa Timur yang sudah punya pilihan terhadap ke empat tokoh tersebut. Dan sisanya sebanyak 56,1 persen belum punya pilihan terhadap Ke empat tokoh tersebut jika Maju sebagai Cagub Jawa Timur,” urainya.
Dan ketika dalam pertanyaan mengunakan kuisioner, dari empat nama tokoh, siapakah yang akan bapak/ibu pilih menjadi Gubernur Jawa Timur. Maka hasil tabulasi data jawaban Responden pada kuisioner didapati bahwa 21,3 persen responden menjawab untuk memilih La Nyalla, 19,1 persen memilih Tri Rismaharini, Lalu 16,3 persen memilih Khofifah Indar Parawansa sedangkan yang memilih Syaifullah Yusuf hanya 10,8 persen dan selebih nya 32,5 persen belum menentukan pilihanya.
Artinya, lanjut Widodo, ada perubahan pilihan kepada tokoh dari pertanyaan spontan ke tertutup pada kuisioner yang diajukan pada responden, dimana dari 56,1 belum punya pilihan dalam pertanyaan terbuka dan sekarang 67,5 persen sudah punya pilihan.
Jika hanya 3 calon yakni Syaifullah Yusuf, La Nyalla dan Khofifah kata dia, maka persaingan sengit hanya terjadi pada La Nyalla dan Khofifah, sedangkan Syaifullah dianggap tidak akan banyak memperoleh kenaikan tingkat elektabilitas.
“Hal ini disebabkan suara grassroot kader PDIP yang memilih Tri Rismaharini akan menyebrang Ke Khofifah dan La Nyalla, karena kecil kemungkinan mendukung Syaifullah Yusuf. Apalagi tingkat kepuasan warga Jawa Timur terhadap pemerintahan Pakde Karwo dan Syaifullah Yusuf diatas 70 persen.
“Dan yang tidak puas terhadap kinerja Pemprov Jatim sebanyak 78,3 persen sementara yang puas hanya 21,7 persen,” tambahnya.
Kata dia, ketidak puasan Masyarakat Jawa Timur diantaranya digambarkan dalam angka Indeks pembangunan Manusia Jawa Timur yang dibawah 70 persen selama 5 Tahun terakhir. (*)
Click to comment
Post a Comment